antropologi kartu pos

sejarah media sosial fisik sebelum era instagram

antropologi kartu pos
I

Pernahkah kita memotret secangkir kopi aesthetic atau pemandangan pantai, lalu buru-buru mengunggahnya ke Instagram Story? Tentu saja pernah. Kita mungkin berpikir bahwa dorongan untuk memamerkan momen hidup ini adalah penyakit manusia modern. Sesuatu yang lahir gara-gara internet dan algoritma lembah silikon. Tapi, mari kita mundur sejenak. Ratusan tahun lalu, jauh sebelum ada smartphone, nenek moyang kita sebenarnya melakukan hal yang persis sama. Mereka juga tergila-gila pada update status visual. Alatnya bukan layar sentuh, melainkan selembar karton tebal berukuran 9x14 sentimeter. Mari kita bicarakan tentang kartu pos, media sosial fisik pertama di dunia.

II

Coba bayangkan kita hidup di akhir abad ke-19. Mengirim surat pada masa itu mahal, ribet, dan sangat formal. Surat ditujukan untuk berita penting, bukan sekadar basa-basi. Lalu tiba-tiba, muncul inovasi gila. Otoritas pos mulai mengizinkan pengiriman kartu bergambar dengan harga prangko yang sangat murah. Ini adalah sebuah revolusi. Secara psikologis, manusia itu makhluk sosial yang sangat peduli pada hierarki, atau dalam istilah sains disebut status-seeking primate. Otak kita didesain untuk terus membangun koneksi dan memberi sinyal kepada kelompok. "Lihat, saya sedang di Paris!" atau "Saya baru saja makan enak di restoran ini." Kartu pos memfasilitasi dorongan biologis tersebut dengan sempurna. Medium ini murah, sangat visual, dan yang paling penting, tidak butuh banyak mikir untuk menulisnya. Teman-teman bisa melihat bagaimana ini adalah cikal bakal micro-blogging, berdekade-dekade sebelum Twitter lahir. Orang-orang mulai mengirim jutaan kartu pos setiap harinya. Tapi pertanyaannya, apa sebenarnya yang mereka tulis di baliknya?

III

Jika teman-teman berpikir orang zaman Victoria menulis puisi romantis atau pemikiran filosofis di kartu pos mereka, tebakan itu keliru besar. Para sejarawan dan antropolog yang mengumpulkan kartu pos kuno menemukan fakta yang sangat lucu. Kebanyakan isinya ternyata sangat receh. "Cuaca hari ini panas," "Saya tiba dengan selamat," atau "Kucingnya tetangga baru saja melahirkan." Sangat mirip dengan tweet atau caption Instagram kita hari ini, bukan? Namun, ledakan komunikasi receh ini memicu kepanikan moral besar-besaran. Sama seperti generasi tua saat ini yang mengkritik anak muda karena kecanduan media sosial, para pengamat di awal tahun 1900-an panik melihat fenomena kartu pos. Mereka khawatir kebiasaan membaca pesan pendek ini akan menghancurkan kemampuan literasi dan seni menulis surat. Ditambah lagi, pesan di kartu pos itu terbuka. Pak pos, pembantu, atau siapa saja bisa membacanya. Privasi seolah mati. Ada ketakutan besar bahwa masyarakat perlahan menjadi terlalu narsis, haus validasi, dan dangkal. Terdengar sangat familiar, kan? Tapi tunggu dulu, ada satu rahasia evolusioner di balik mengapa kita begitu terobsesi dengan hal "dangkal" ini.

IV

Di sinilah letak penemuan sains yang paling menarik. Antropologi memandang kartu pos bukan sebagai tanda kedangkalan, melainkan bukti nyata adaptasi sosial kita. Dalam linguistik dan antropologi evolusioner, ada konsep yang disebut phatic communion. Ini adalah jenis komunikasi yang fungsinya bukan untuk bertukar informasi penting, melainkan sekadar merawat ikatan sosial. Saat primata leluhur kita saling mencari kutu (social grooming), mereka sedang membangun koalisi. Nah, kartu pos adalah bentuk social grooming versi modern di awal abad ke-20. Dan likes di Instagram adalah versi abad ke-21. Saat seseorang mengirim kartu pos bergambar gunung dengan tulisan "Berharap kamu ada di sini," pesan utamanya bukanlah tentang gunung itu. Pesan sebenarnya, yang memicu pelepasan hormon oksitosin (hormon cinta dan ikatan) di otak penerima, adalah: "Saya sedang bersenang-senang, tapi saya mengingatmu, dan kamu penting bagi saya." Mediumnya berubah dari karton ke piksel, tapi hardware saraf di otak kita sama sekali tidak berubah. Kita tidak kecanduan pada secarik kertas atau layar kaca, kita kecanduan pada koneksinya. Kartu pos telah melatih otak masyarakat modern untuk mengonsumsi kehidupan orang lain dalam potongan-potongan visual yang ringkas.

V

Jadi, fenomena oversharing yang sering kita tertawakan hari ini sebenarnya memiliki akar sejarah dan biologis yang sangat panjang. Kita tidak lebih narsis dari kakek buyut kita di era Edwardian. Kita hanya punya teknologi yang mengeksekusinya dengan lebih cepat. Menyadari hal ini rasanya memberi kita ruang untuk lebih berempati, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Lain kali, saat kita melihat teman yang mengunggah sepuluh Instagram Story berturut-turut tentang liburannya, kita tidak perlu buru-buru bersikap sinis. Anggap saja mereka sedang mengirimkan kartu pos digital. Mereka sekadar mempraktikkan insting purba untuk tetap terhubung dalam dunia modern yang kadang terasa terlalu besar dan sepi. Pada akhirnya, entah lewat tempelan prangko maupun sinyal Wi-Fi, kita semua manusia hanya punya satu keinginan sederhana: ingin dilihat, diingat, dan merasa menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.